Ticker News

header ads

Pengamat: Model Kampanye Meme Prabowo-Sandi Menyasar Milenial

Jakarta - ‎Pengamat politik Silvanus Alvin menilai model kampanye yang dikembangkan saat ini dapat dikategorikan sebagai political dumbing down. Gaya komunikasi politik seperti itu bukan berarti membodohi publik, namun tujuan utamanya adalah menarik perhatian publik.

Calon wakil presiden  Sandiaga Uno
Calon wakil presiden  Sandiaga Uno
"Saat ini memang generasi milenial jadi sasaran para kandidat capres dan cawapres. Salah satu karakteristik mereka adalah menyukai hal yang viral. Dengan demikian, gaya komunikasinya harus sesuai," kata Alvin di Jakarta, Kamis (8/11).

Ia menjelaskan dengan sasaran utama pemilih milenial maka para tim kampanye atau relawan membuat pesan-pesan politik yang dikemas memenuhi unsur viral. Di dalamnya mengandung hal remeh temeh, mudah dicerna, unik, dan menghibur. Bila sudah viral, pasti akan mudah diingat. Kemudian ada unsur kekuatan media sosial dalam mempromosikan pesan yang disampaikan. Belum lagi ada faktor word of mouth.

"Kalau pesan politik pasangan capres dan cawapres itu dikemas seperti gaya dulu, ya mungkin kaum milenial tidak akan melihat itu," tutur pengajar komunikasi politik di Universitas Bunda Mulia ini.

Ia memberi contoh mengapa calon wakil presiden (Cawapres) Sandiaga Uno kerap membahas tempe setipis kartu ATM. Atau perbandingan sepiring makanan di Jakarta lebih mahal daripada Singapura. Model komunikasi seperti itu karena gampang dicerna masyarakat.

"Pasti sudah ada riset yang dilakukan konsultan politiknya," tegas Alvin.

Dia memberi contoh lain mengapa Sandiaga menaruh pete di kepala seperti menyerupai wig. Model seperti itu karena tujuannya meme-able. Unsur viral yang dikejar. Hal ini kaitannya dengan popularitas yang ujungnya menaikkan elektabilitas.

"‎Tidak ada yang salah dengan political dumbing down atau gaya kampanye nyeleneh ini, selama dalam batasan tertentu," tuturnya.

Dia menegaskan ada dua hal yang mendasari model kampanye dumbing down tersebut. Pertama, apa yang dilakukan bentuk strategi yang perlu dilakukan penantang atau pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Jika pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Ma'ruf Amin atau petahana melakukan ini kurang tepat karena mereka harus menunjukkan apa yang telah dikerjakan. Kedua, masyarakat akan lebih aware atau sadar dengan keadaan sosial, karena tiap pesan dikemas dengan sederhana.

Dia menegaskan model kampanye nyeleneh tersebut memang disukai masyarakat Indonesia. Alasannya, masyarakat Indonesia belum terbiasa dengan pembicaraan yang bersifat substansi. Di sisi lain, media sosial yang digunakan masyarakat Indonesia selama ini memang tidak menyuguhkan berita positif tapi lebih banyak yang negatif.

"Masyarakat Indonesia memiliki tipikal menyukai gaya kampanye nyeleneh atau receh atau dumbing down. Hal ini bukan tanpa sebab. Ini bagian dari bertahun-tahun lamanya, media massa Indonesia menyuguhkan konten-konten nonberita yang kurang edukatif. Kondisi saat ini adalah hasil yang dituai," jelas Alvin.

Dia menambahkan kampanye atau gaya komunikasi political dumbing down itu juga diterapkan di Amerika. Tokoh yang lihai memerankan ini adalah Presiden USA sekarang, Donald Trump. Bagaimana Trump sibuk dengan hal receh atau nyeleneh, kemudian ia kicaukan di Twitter. Jadi gaya politik dumbing down itu sudah bukan barang baru. 

Post a Comment

0 Comments